Surakarta, immsolo.or.id — Dalam negara yang demokratis, perbedaan adalah keniscayaan. Kita boleh berbeda pilihan, berbeda pandangan, berbeda organisasi, bahkan berbeda cara melihat masa depan negeri ini. Tetapi agaknya ada satu hal yang belakangan semakin sulit kita temukan, kemampuan untuk tetap duduk bersama meskipun berbeda.
Di tengah situasi semacam itu, Bidang Seni, Budaya, dan Olahraga (SBO) PC IMM Kota Surakarta bersama Pejuang Masjid UMS kemarin justru mencoba melakukan sesuatu yang sederhana, mengadakan nonton bareng Timnas Indonesia di Final FIFA ASEAN Cup 2026 di Alun-Alun FEB Kampus 2 UMS yang terbuka bagi khalayak umum. Tidak ada syarat harus berasal dari organisasi tertentu, tidak ada pertanyaan tentang afiliasi, tidak ada pemeriksaan mengenai dari kelompok mana seseorang datang. Siapa pun boleh hadir, duduk, menonton, dan merayakan Indonesia. Sederhana memang. Tetapi justru kesederhanaan itu yang hari ini terasa semakin mahal.
Sebab kita sedang hidup di tengah situasi ketika perbedaan begitu mudah dijadikan alasan untuk saling menjauh. Perbedaan pilihan politik dianggap sebagai pertentangan. Perbedaan organisasi berubah menjadi sekat. Perbedaan pandangan bahkan kadang cukup untuk membuat seseorang merasa tidak lagi berada di ruang yang sama dengan kita.
Lantas, bukankah agak ironis jika sebuah pertandingan sepak bola justru mampu melakukan sesuatu yang sering kali gagal dilakukan oleh ruang-ruang politik, organisasi, bahkan institusi pendidikan? Di sana tidak ada yang bertanya, “Kamu dari kelompok mana?” Tidak ada yang bertanya, “Kamu memilih siapa?” Tidak ada yang bertanya, “Kamu berpihak kepada siapa?”
Kita hanya menunggu satu hal, apakah bola itu akan masuk ke gawang dan membuat kita semua berdiri dalam sorak yang sama.
Mungkin bagi sebagian orang, ini hanya sepak bola, hanya pertandingan, hanya sebelas orang mengejar bola di lapangan. Tetapi barangkali mereka lupa bahwa sepak bola tidak pernah benar-benar hanya tentang bola. Ia tentang identitas, tentang kebanggaan, tentang rasa memiliki, dan dalam konteks tertentu, tentang bagaimana orang-orang yang tidak saling mengenal dapat merasa menjadi bagian dari sesuatu yang sama.
Terlebih setelah 35 tahun negara yang sering disebut sebagai negara gila bola ini akhirnya mengangkat piala dalam ajang resmi FIFA. 35 tahun bukan waktu yang sebentar, ada generasi yang tumbuh, dewasa, bahkan mungkin telah meninggalkan dunia ini tanpa pernah melihat Timnas Indonesia mengangkat trofi semacam itu. Maka ketika piala itu akhirnya terangkat, yang dirayakan sebenarnya bukan hanya kemenangan sebuah kesebelasan. Ada penantian yang selesai, ada harapan yang selama ini dipelihara meskipun berkali-kali dikecewakan. Dan mungkin ada sedikit perasaan bahwa, untuk sekali ini, Indonesia memberi kita alasan untuk tersenyum tanpa harus terlebih dahulu berdebat.
Tetapi apakah kemenangan itu kemudian membuat segala persoalan bangsa selesai? Tentu tidak. Satu piala tidak akan menghapus ketidakadilan, satu kemenangan tidak serta-merta mengembalikan kepercayaan masyarakat kepada negara, kemenangan Timnas tidak membuat kebijakan yang keliru menjadi benar, tidak membuat persoalan rakyat hilang, dan tidak pula mengharuskan kita berhenti mengkritik kekuasaan.
Justru di sinilah letak persoalannya. Apakah mencintai Indonesia harus selalu berarti memuji negaranya? Apakah kritik kepada pemerintah otomatis berarti tidak nasionalis? Apakah seseorang harus berhenti kecewa kepada negara hanya karena malam itu sebelas pemain mengenakan lambang Garuda di dada? Jika jawabannya iya, barangkali kita telah salah memahami nasionalisme. Sebab mencintai Indonesia tidak pernah identik dengan membenarkan segala sesuatu yang dilakukan atas nama Indonesia. Kita bisa mencintai benderanya sembari mengkritik pemerintahnya, kita bisa bangga kepada Timnas sembari kecewa terhadap negaranya, kita bisa berdiri ketika Indonesia Raya dikumandangkan, tetapi pada saat yang sama tetap berdiri di barisan yang mempertanyakan kebijakan ketika rakyat diperlakukan tidak adil. Bukankah kritik justru lahir karena masih ada kepedulian? Orang yang benar-benar tidak peduli tidak akan repot-repot mengkritik. Ia akan memilih pergi, diam, dan membiarkan semuanya berjalan sebagaimana adanya.
Karena itu, malam kemarin seharusnya tidak dibaca sebatas “Indonesia Juara”. Ada sesuatu yang lebih besar yang patut kita renungkan. Di tengah ketidakpercayaan kepada negara, masih ada orang-orang yang bersedia berkumpul atas nama Indonesia, di tengah polarisasi, masih ada ruang yang memungkinkan orang berbeda duduk berdampingan, di tengah berbagai alasan untuk saling mencurigai, masih ada satu hal yang membuat kita spontan merangkul orang di sebelah kita ketika bola masuk ke gawang.
Sepak bola, dengan segala problematikanya, masih mampu mempertemukan kita tanpa meminta kita menjadi sama terlebih dahulu. Bukankah itu yang seharusnya juga bisa dilakukan oleh kehidupan berbangsa? Kita tidak harus sepakat untuk bisa duduk bersama, kita tidak harus memiliki pilihan politik yang sama untuk bisa menyebut diri sebagai saudara sebangsa, kita tidak harus berasal dari organisasi yang sama untuk sama-sama memiliki Indonesia. Sebab Indonesia tidak pernah dibangun oleh orang-orang yang seluruhnya sepakat, Indonesia dibangun oleh perbedaan yang kemudian memilih untuk hidup bersama.
Maka kalau kemarin di Alun-Alun FEB Kampus 2 UMS kita bisa berteriak bersama, tertawa bersama, kecewa bersama, lalu akhirnya merayakan kemenangan bersama tanpa perlu mengetahui latar belakang orang di sebelah kita, mungkin pertanyaannya bukan lagi apakah sepak bola mampu menyatukan kita, pertanyaannya justru: mengapa dalam banyak hal lain kita begitu mudah dibuat terpecah? Dan mungkin, setelah euforia kemenangan ini selesai, tugas kita bukan sekadar mengingat bahwa Indonesia pernah menjadi juara. Tetapi mengingat bahwa kita pernah duduk bersama sebagai orang-orang yang berbeda dan tetap merasa memiliki nama yang sama ”Indonesia”.
Kita boleh kecewa terhadap negara ini, kita boleh marah, kita boleh mengkritik, kita bahkan boleh kehilangan kepercayaan terhadap mereka yang sedang menjalankan kekuasaan. Tetapi jangan sampai karena kecewa kepada negara, kita kehilangan kecintaan kepada tanah air. Sebab negara bisa mengecewakan, pemerintah bisa berganti, kekuasaan bisa datang dan pergi, tetapi Indonesia tetap menjadi rumah yang harus kita perjuangkan.
Dan kalau malam kemarin sepak bola berhasil membuat kita kembali duduk bersama, mungkin untuk sementara waktu, biarkan kita percaya bahwa persatuan itu belum benar-benar hilang, barangkali ia hanya sedang menunggu alasan untuk kembali ditemukan.



