Catatan Kritis Kader untuk IMM Solo Tercinta

Picture1

Author : Anonim

Rosullullah SAW bersabda :

“Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang dipimpinnya.” ( HR. Bukhari dan muslim )

                
Prinsip ini bukan sekadar ajaran moral, melainkan identitas dasar organisasi kader seperti IMM. Dalam kerangka itu, setiap orang yang memegang amanah, sekecil apa pun, mengemban beban kolektif yang bersifat etis, organisatoris, dan spiritual.

Namun, realitas hari ini menunjukkan bahwa prinsip itu kian kabur. Idealisme gerakan mulai digeser oleh pragmatisme, dan itulah akar dari banyak persoalan di internal organisasi

 IMM Hari Ini: Gerak Administratif Mengalahkan Gerak Perubahan

Berbagai kegiatan terlaksana, laporan tersusun rapi, dokumentasi lengkap. Tetapi di mana transformasi sosialnya? Dalam studi organisasi, ini dikenal sebagai ritualisasi struktural: gerakan hanya menjadi rutinitas yang diulang, tanpa visi dan dampak. IMM mulai terjebak dalam pola ini—hidup secara administratif, mati secara substantif. Organisasi berubah menjadi jaringan, bukan lagi gerakan. Jabatan menjadi modal mobilitas, bukan ladang perjuangan. Ini bukan sekadar kesalahan individu, tetapi kegagalan orientasi kolektif.

2. Akar Masalahnya: Krisis Kesadaran Kolektif Antar bidang

Hampir di setiap bidang, pola yang sama muncul:

  • Program kerja hanya dikerjakan oleh satu-dua orang, sementara lainnya pasif.
  • Ada banyak potensi kader, tetapi tidak dihidupkan.
  • Rapat dihadiri, tetapi tidak diikuti dengan tanggung jawab.
  • Amanah diterima, tetapi tidak dijalankan.
  • Agenda besar cabang sering berjalan seadanya karena koordinasi minim.

Ini bukan semata persoalan kinerja bidang tertentu, tetapi simptom dari krisis kolektivitas. Dalam teori gerakan, kondisi ini dikenal sebagai free rider phenomenon—banyak yang menikmati manfaat organisasi, sedikit yang mengambil peran dalam bebannya. Ketika satu orang mewakili banyak kepala dalam rapat cabang, itu bukan kelebihan individu, tetapi kelemahan kesadaran struktural.      

Mengapa Aku hari ini Masih Bertahan dan Bergerak?    

Pertanyaan yang sering muncul: Untuk apa tetap aktif kalau banyak yang tidak bergerak?” Jawabannya sederhana: yaitu Amanah dan cinta terhadap ikatan. Aku tidak mencari apa pun. Tidak mengejar posisi, akses, atau keuntungan.
Yang aku pahami hanya satu: setiap amanah harus dipertanggungjawabkan.

Agenda Besar Cabang: Tidak Mungkin Ditanggung Satu Orang

Setiap agenda cabang milad, kegiatan lintas bidang, forum resmi, advokasi sosialbukan milik satu bidang. Itu tanggung jawab seluruh struktur. Ketika pembahasan satu agenda besar saja sulit terlaksana karena banyak yang “tidak bisa hadir”, itu menunjukkan bahwa masalahnya bukan pada teknis, tetapi pada kesadaran. Dalam manajemen gerakan, ini disebut kegagalan koordinasi horizontal setiap bidang bergerak sendiri-sendiri, tanpa kesadaran bahwa mereka adalah bagian dari satu tubuh.

   Jalan Pulang: Merestorasi Jiwa Gerakan

Jika IMM ingin kembali berfungsi sebagai organisasi kader, ada tiga hal yang harus dipulihkan:

(1) Mengembalikan orientasi pada perubahan, bukan administrasi

Program bukan sekadar kegiatan, tetapi alat transformasi. Jangan biarkan IMM hidup hanya di laporan.

(2) Menghidupkan tanggung jawab kolektif antar bidang

Gerakan yang kuat tidak dibangun oleh segelintir orang, tetapi oleh banyak orang yang bersedia bergerak bersama.

(3) Membangun budaya evaluasi yang jujur dan berani

Bukan evaluasi yang sekadar formalitas, tetapi evaluasi yang mengungkap akar persoalan tanpa saling menyalahkan.

  IMM Tidak Bisa Ditopang oleh Satu Orang

Kalau hari ini IMM terasa berat, mungkin bukan karena organisasi kekurangan kader tetapi karena kita terlalu sering membiarkan satu orang memikul pekerjaan banyak orang. Gerakan tidak akan pernah hidup jika hanya mengandalkan individu. Ia hanya hidup jika kesadaran kolektif bangkit.Dan kebangkitan itu dimulai dari keberanian untuk mengakui: Kita punya potensi besar, tetapi kita sedang malas menghidupkannya.

Solo dikenal oleh dua kubu di setiap periodesasi. Namun di tengah perbedaan itu, seni, budaya, dan olahraga menawarkan sesuatu yang unik: ia menyatukan warna yang berbeda melalui ruang yang netral. Lapangan adalah ruang persetaraan. Di sana tidak ada warna, tidak ada faksi—yang ada hanya kebersamaan.Justru di ruang inilah perbedaan cara pandang, gagasan, bahkan dinamika organisasi tidak dihilangkan, tetapi dilebur dalam bentuk interaksi yang sehat. Perbedaan pikiran yang biasanya muncul dalam forum formal, bisa cair ketika bertemu di lapangan olahraga atau dalam event budaya. Di sana, yang bekerja bukan lagi sekat ideologis, tetapi kerja sama, sportivitas, dan rasa saling menghargai.

Mengapa Seni, Budaya, dan Olahraga (SBO) Penting untuk IMM?

SBO itu sebenarnya bukan cuma soal hiburan. Ia adalah ruang di mana kader bisa saling mendekat lagi setelah lama disibukkan oleh dinamika organisasi. Di lapangan olahraga, kita belajar bahwa kebersamaan sering tumbuh dari hal-hal sederhana: saling oper bola, saling menyemangati, atau tertawa bareng ketika strategi tiba-tiba berantakan. Di situ kita merasa, “Oh iya, kita ini satu tim.”

Kebersamaan seperti ini mirip dengan apa yang terjadi di Timnas Indonesia. Pemainnya berasal dari berbagai suku, agama, dan karakter yang berbedabahkan gaya bermainnya pun tidak selalu sama. Tapi ketika mereka masuk stadion dan mengenakan satu lambang di dada, semua warna itu melebur. Kita sebagai penonton juga sama: mau berbeda pilihan, daerah, atau pandangan, kalau Timnas bertanding, kita berdiri di tribun yang sama, menyanyikan lagu yang sama, berteriak untuk kemenangan yang sama. Perbedaan tidak hilang, tapi ia justru ikut hadir sebagai kekuatan.

Begitu pula dengan IMM. Puncak budaya saat milad bukan hanya acara formal, tetapi momen untuk meneguhkan bahwa perbedaan di antara kita bisa dirayakan. SBO entah lewat futsal, badminton, ataupun pentas seniadalah cara sederhana namun kuat untuk mengingatkan bahwa kita ini satu rumah. Yang berbeda bukan untuk dijauhi, tetapi untuk dirangkul dalam kebersamaan.

Penutup :

Kritik ini Adalah cinta dan kritik ini bukan berati menyerah pada IMM justru sebaliknya, hanya mereka yang mecintai yang mau repot – repot mengirtiknya..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *